BERSYUKUR SETIAP SAAT
Namaku
:
RISKAH ALFIANI
No.
Peserta ku : XII-119-079
Dari begitu
bangun pagi di kamar lantai atas sampai turun ke lantai bawah, sudah berapa
kali saya mengucapkan terimakasih dan bersyukur? Mungkin sudah lima kali sampai
tujuh kali. Dalam satu hari? Berapa kali saya berterima kasih dan bersyukur
didalam hati? Berapa kali yang saya ucapkan dengan lantang bersuara dengan
orang lain? Mungkin bisa 50 sampai 100 kali, bisa jadi lebih, karena tidak saya
hitung.
Tidak praktis kedengarannya? Kok ya aneh
mengucapkan terimakasih sampai puluhan kali dan satu hari? Bahkan ratusan kali?
Jawabanya mudah saja:dengan berterimakasih dan bersyukur, kita selalu mencari
sisi positif dari segala sesuatu. Dengan mencari sisi positif, maka diri kita menjadi
semakin positif dalam melihat segala sesuatu. Pasti ada putih setitik didalam
hitam kelam dan ada hitam setitik di dalam putih bersih.
Dengan
selalu mengingat kelimpahan kita, otak kita mencetak keyakinan (believe) bahwa
memang benar kita hidup dalam kelimpahan. Maka, semua perbuatan kita didasari
oleh keyakinan ini, termasuk persepsi diri kita sebagai personifikasi dari sukses. Lantas, sampai kapan perlu
mengucapkan terimakasih dan bersyukur berpuluh-puluh kali tersebut? Sepanjang
hayat.
Ah,
tidak praktis, mungkin ada yang berpendapat demikian. Sekali lagi bahwa ini tidak
mengajarkan untuk sukses dalam semalam, namun dengan mengubah mindset (pola pikir) maka segala faktor
eksternal yang sering menjadi atribut orang sukses akan dating sengan sendirinya
bagaikan arus sungai.
Berterimakasih
dan bersyukur toh tidak memerlukan modal uang maupun sumber daya apapun.
Intinya hanya satu, yaitu kemauan keras untuk mengubah diri. Jangan pikirkan
“pahala” yang anda dapat dari perbuatan ini dulu. Jangan pula mengharap nasib
akan berubah dalam sekejap. Yang jelas, dengan mengucapkan terimakasih kepada
orang lain tanpa ada rasa keterpaksaan dan rasa canggung saja sudah merupakan
jembatan kita ke dalam hati orang itu.
“Terima kasih”
tidak akan pernah ditolak oleh orang lain, malah biasanya disambut dengan
senyum lebar dan hati yang sedikit lebih lembut dari pada sebelumnya. Ini saja
sudah merupakan magnit yang bisa membantu kita semua dalam memproyeksikan diri
yang sukses ke luar. Jadi , jika ada keragu-raguan dan ke-engganan untuk
berterimakasih dan bersyukur dalam skala dan frekuensi luar biasa, maka
sebaiknya Anda urungkan niat anda untuk menjadi personifikasi dari sukses itu
sendiri. Aammiiin …
Komentar
Posting Komentar