Ditemani tanah basah yang meskipun becek namun untung saja ada aspal, langkah kaki ini pun satu demi satu
menyusuri jalan kecil menuju fakultas yang katanya ‘kaya’ ini. Fakultas yang
memang sesuai namanya bertujuan melahirkan para pengusaha muda. Inilah fakultas
yang menemaniku selama hampir setahun setengah ini, fakultas ekonomi dan
bisnis. Hari ini adalah hari pertama di semester ke empat, semster baru dengan
membawa segudang resolusi baru di tahun baru pula. Semua memang tak terasa
seperti langkah kaki ini yang juga tak terasa telah melangkah menuju ruang
kuliah.
3 mata kuliah, itu adalah jatah ilmu hari ini. Otomatis dengan 3 ilmu
baru ini akan ada berbagai suntikan materi dengan berbagai sharing pula. Ku
kira seperti yang sudah sudah, kuliah hari pertama hanya berupa ‘introduction’
alias ta’arufan saja, ternyata tidak. Hari ini adalah hari dimana aku harus
berpikir. Bukankah perkenalan pun harus berpikir? Bukan , perkiraanku salah
besar. Hari ini di ketiga mata kuliah itu ternyata menyajikan materi. Materi
yang aku sendiri takut tak bisa memahaminya. Iya karena malamnya aku tak
berpikir sejauh ini malah aku memilih tiduran sambil main gadget karena di
pikiranku besok mungkin hanya santai –
santai saja.
Panik, satu kata saat menghadapinya. Ketika bibir ini baru saja tersenyum
riang mendengarkan celotehan liburan dari teman-teman,ternyata dosen sudah
masuk. Percaya atau tidak kami langsung disodori pre test. Langsung saja
benakku seolah macet dan shock ketika menerima tes ini. Bagaimana kalau nanti ditanyai teori ini, atau
dengan pre test yang diajukan malah menghancurkan nilaiku, atau yang paling
buruk tak bisa menjawab harus keluar kelas. Dalam benak ini rasanya sudah
muncul pemikiran macam-macam antara menyesal dan takut. Namun materi yang
diajarkan tak semenakutkan itu, di hari pertama ini seolah dosen adalah
penasihat. Kalian tahu kenapa? Karena hari ini aku melihat sebuah sisi lain
dari profesi yang akan aku jalani nanti yaitu akuntan.
Banyak persepsi ,tantangan dan penuh perhitungan. Kerap kali hal ini
melekat pada profesi akuntan. Tak main – main memang, karena akuntan ibaratnya
seperti paket lengkap yang tak hanya menghitung uang tapi juga memikirkan
kemana uang itu larinya. Tentu perencanaan adalah satu hal yang tak mudah
dilakukan. Bahkan untuk membuat satu anggaran saja perlu satu bab khusus
membahasnya dan yang lebih ekstrim lagi ada satu mata kuliah khusus pula. Memikirkan
itu memang sudah pusing kepala kalau kalau tak menguasai ilmunya.
Tak jarang hal ini juga terjadi pada kalangan anak muda. Kalau kata anak
muda, rencana itu dipikir nanti nanti saat tua. Kalau muda begini dinikmati
saja apa adanya. lucu. Satu kata yang ingin kukatakan, kenapa? Karena justru
kebalikanya. Aku tak menampik bahwa manusia hanya merencanakan dan tuhan yang
menentukan, namun percaya atau tidak tanpa rencana rasa-rasanya calon presiden
pun tak akan mendapatkan kursinya. Bahkan tanpa rencana, hidup ini seolah tak
ada arah kemana langkah kaki selanjutnya. Seperti anggaran dalam perusahaan,
semuanya tak bisa seratus persen sama dengan realisasi. Pasti ada bedanya.
Namun itu tadi, dengan anggaran maka kita akan tahu mana akun yang membengkak
dan mana yang tidak. Sama seperti anak muda, dengan rencana kita bisa tahu mana
yang perlu diperbaiki dari hidup kita, apakah ilmu agamanya, ilmu dunia atau
akhlak hidupnya.
Oleh karena itu, masa depan pun penting untuk dipersiapkan. Seperti
akuntan yang juga mempersiapkan masa depan dengan anggaranya maka sudah
sepantasnya jiwa muda seperti kita ini pun bersiap menghadapi segalanya. Ada
badai atau petir, setidaknya sudah bersiap payung. Perkara nanti payung itu
harus rusak di tengah jalan maka itu adalah kehendah Tuhan. Jadi jangan lupa
persiapkan masa depan, eits termasuk sekolah. Kalau di hari pertama jangan
sepertiku ya yang santai saja tapi kejarlah kalau tak untuk dosen anggap saja
belajar di hari pertama itu hadiah untuk diri kita. Bukankah lebih awal bersiap
tak ada yang salah? Perusahaan saja punya anggaran, lalu hidupmu kapan punya rencana?
Komentar
Posting Komentar