Rasanya
sudah lama jari ini tak berselancar di papan keyboard laptop hitam merk asus
ini. Tapi entah kenapa, kali ini seorang “esok” mampu memaksaku untuk
menceritakan kisahnya kembali dalam tulisan ini. sebuah kisah penantian yang
erat dengan persahabatan. Sebuah kisah antara “esok dan lail” dalam buku Hujan
karya sang penulis ternama Tere liye. Penulis yang kita tahu selalu blak-blakan
kalau membahas opininya tentang negara ini.
Ada
yang tahu wonder woman? Sepertinya kalau tokoh “lail” ini ada di kehidupan
nyata, predikat wonder woman ini patut disandangnya. Kau tahu kenapa? Karena
dia berhasil melepaskan apa yang selama ini dirisaukan banyak orang. Menelan
bulat-bulat semuanya, dan berusaha menerima semua dengan lapang dada. Yang
kumaksud disini adalah menerima kehilangan.
Inilah
kisah tentang kehilangan sekaligus penantian. Sebuah kisah yang berawal dari
seorang “lail” yang kukira dia anak kecil biasa yang hidup di zaman serba
canggih, mudah dan cepat. Ternyata bukan hanya itu. Berawal dari teknologi “serba”
ini manusia seolah terlena bahkan mungkin lupa bahwa hidup layaknya sebuah roda
kadang diatas kadang dibawah. Begitupun dengan kisah ini yang mengajarkan bahwa
ujian satu persatu mulai datang kepada umat manusia. umat lho bukan hanya satu
manusia. ujian yang mempertaruhkan keutuhan umat manusia hingga bumi itu
sendiri. Yaitu sebuah bencana mahadahsyat gunung purba yang meletus diikuti
tsunami dan gempa. Disini, tokoh lail benar-benar diuji karena seluruh
keluarganya habis sama sekali tak tersisa karena meski ayahnya di belahan dunia
lain, beliau pun turut menjadi korban bencana mahadahsyat itu. Bahkan dengan
kedahsyatanya ini sampai - sampai lapisan atmosfer bumi pun turut berubah. Kali
ini tere liye benar-benar membuatku termangu dengan imajinasinya dari teknologi
serba ada menjadi sebuah bumi yang hancur seolah tak tersisa.
Tak
sampai disitu, maka benar sudah bahwa dibalik ujian ada mutiara yang bisa
diambil didalamnya. Begitupun dengan kisah “lail”, ternyata ujian yang telah
menewaskan seluruh anggota keluarganya itu membuatnya bertemu seorang “esok”.
Seorang pemuda tampan yang juga berjuang menyelamatkan hidup dirinya sendiri
dan ibunya. Tak hanya tampan, bahkan dia ini jenius. Ah wanita mana yang tak
mau denganya. Termasuk juga “lail”, diam –diam dia mulai menaruh hati pada
esok. Jangan berharap dia ini wanita yang mengejar laki-laki. Bahkan di kala teknologi
sangat canggih kala itu, tokoh lail diceritakan hanya menunggu telepon dari
esok yang hanya tiga kali menelponya. Seberapapun rindunya lail ini, dia tak
mau menelpon esok.
Bukan
penantian yang pendek, melainkan panjang. Sangat panjang penantian seorang lail
untuk esok. Mulai dari lail berumur 13 tahun sampai dia dinyatakan lulus dari
sekolah keperawatan. Dari sini, aku belajar tentang apa itu penantian. Apa itu
kata dahsyat yang membuat para jomblo
semakin terdiam yaitu menunggu. Satu kata dimana membuatku ingat bahwa benar
kata tere liye “bahwa hidup ini memang tentang menunggu, menunggu kita untuk
menyadari : kapan kita akan berhenti menunggu”. Seperti kematian, yang juga
sudah menunggu, entah besok atau lusa datang. Kita sebagai manusia hanya bisa
menunggu dan mempersiapkannya.
Memang
benar cerita ini diakhiri dengan happy ending layaknya novel pada umumnya.
Namun yang menarik disini bukan hanya sebuah tawa yang muncul dari bersatunya
lail dan esok. Melainkan sikap ikhlas yang digambarkan lail. Kehilangan
segalanya bahkan dititik akhir hidupnya yang dialami lail membuatnya ingin
menghapuskan seluruh ceritanya dengan esok agar dia tak lagi menantinya. Maka
kala itu hampir saja dia memilih untuk menggunakan sistem penghapus memori otak
agar tak lagi mengingat siapa itu esok. Tapi benarlah bahwa kunci dari melupakan
kehilangan itu bukan menghapusnya, melainkan menerimanya. “Barang siapa yang
bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan”. Karena kehilangan bukan hanya
tentang rasa sakit untuk melepaskan sesuatu yang dimiliki melainkan kemampuan
untuk menaklukkan diri sendiri. Oleh karena itu hanya orang kuatlah yang mampu
menghadapi kehilangan, melepaskan sesuatu yang dimilikinya.
Maka lengkaplah sudah cerita dari
300 halaman lebih buku “hujan” ini. Cerita yang cukup imajinatif dan gamblang
dalam menggambarkan suasana. Membaca cerita ini aku serasa ditarik untuk
melihat rangkaian kenangan sedih, senang hingga kehilangan yang sangat
menyakitkan. Dari cerita ini aku sendiri belajar maka benar adanya bahwa
kehilangan memang untuk diterima bukan dilupakan begitu saja!

Komentar
Posting Komentar