Asap
mengepul, dari sebuah cangkir berisi air kehitaman ini. bukan air racun, inilah
minuman yang bernama kopi. Minuman hangat yang seringkali dijadikan jalan
pelepas penat dalam kebiasaan menghadapi kehidupan. Kopi oh kopi, kau
mengingatkanku pada tawa 7 tahun lalu. Tawa yang masih jelas terbenak dalam
memori ini. tawa seseorang yang saat ini ingin sekali kupeluk erat dan menangis
di bahunya. Dan pertanyaan tentang ketidakmungkinan itu terulang kembali,
apakah aku bisa memutar waktu sejenak untuk berlari ke masa lalu?
Sayangnya
baik asap, cangkir atau bahkan bolpoin di depanku ini tak mampu menjawabnya. Kuseruput
dalam-dalam kopi ini. Tak apalah sedikit panas, biar panas itu menghangatkan hati
yang mulai tak karuan ini. tak karuan atau mungkin aku yang tak mampu
mengatasinya. Entahlah mungkin keduanya. Asap yang mengepul ini, mengingatkanku
pada sosok gempal yang 7 tahun lalu masih tersenyum dan menasehatiku. Klise. Kukira nasehat itu hanya bercandaan dari
bapakku saja, maklum beliau ini suka sekali membuat lawan bicaranya tertawa. Hanya saja sebaliknya, nasehat yang dulu
diucapkanya ini ternyata benar-benar harus kuresapi dan kujalankan dengan baik.
Kalian
tahu apa itu nasehatnya? Simple sebenarnya, kurang lebih seperti ini “Ris, kabeh manungso nang ndunyo iki pasti
mati” ucap bapak sambil membenarkan kruk yang menyangga tubuhnya. Kala itu aku
tak mau ambil pusing, kujawab saja “riskah isih cilik kok pak, masih paanjaaang
perjalananku” jawabku begitu saja di umurku yang kala itu baru 12 tahun. “sing
pinter ya nak” ucap bapak sembari tersenyum menatap kedepan jendela, seolah
menerawang jauh sekali ke masa depan. Aku tak menyangka itulah nasehat terakhir
yang kau berikan kepadaku.
Dan
tanpa sadar semuanya telah berlalu, 7 tahun sudah aku berjalan sendiri tanpamu
pak. Bapak tahu apa yang kurindukan darimu? .Senyumanmu pak, guyonanmu yang
selalu kau selingi nasehat itu yang kurindukan. Aku rindu semua tentangmu. Seperti
kopi yang mulai dingin didepanku ini, aku rindu dengan kerinduan pahit yang
kusimpan dalam diam. Aku rindu tawa dan pelukanmu dikala aku lelah dalam hidup ini.
Aku rindu semua tentangmu.
Pak,
kalau nanti kita dipertemukan kembali, kau tahu pak anakmu ini ingin apa? Bukan.
Bukan martabak manis atau pesawat seperti yang kuteriakkan dulu. Hanya satu pak
keinginanku, Aku hanya ingin memelukmu lama sekali. Memelukmu erat sambil
tersenyum manis dan berkata, “ Bapak riskah pulang, riskah bisa nemenin bapak
sekarang”.
Komentar
Posting Komentar