Langsung ke konten utama

Menuntaskan Kerinduan



Setahun sudah, aku tak lagi bergulat dengan yang namanya baca dan tulis. Dimana kegiatan ini dulunya akrab hadir dalam keseharianku. Kegiatan ini, kegiatan yang membuatku berpikir dan haus akan pencarian ide ide baru. Hanya saja, tak kusangka ternyata ego yang dibumbui dalih “sok sibuk” membuatku benar-benar berhenti menelurkan karya. Iya, dulu maksudku berhenti nulis sehari. Kok ya kebablasan jadi setahun tanpa arti haha...



Rindu, satu kata yang terus kuucap dalam batin. Hanya saja ya begini nih aku. Bilangnya rindu di mulut saja, tak mau diri ini bergerak lebih jauh. Ah iya, mungkin benih cinta akan dunia literasi ini belum sepenuhnya mengakar kedalam hati, hingga kerinduanku hanya berhenti di tahap merasakan, yang mana seolah bualan padahal rindu itu sebuah kenyataan. Maka kali ini, aku ingin bercerita apa yang kurindukan dari sebuah dunia bernama literasi ini.

Akrab, kata literasi ini seolah sealu saja berseliweran di kehidupanku. Ya, karena baca dan tulis adalah bagian dari literasi ini sendiri. Baca, sebuah kegiatan yang bahkan menjadi wahyu pertama Allah yang tertulis indah di al qur’an. Yang aku sendiri, baru belakangan pas kuliah ini menyadarinya. Kau tahu apa yang kurindukan dari kegiatan membaca? rasanya kayak sehari makan sayur tapi gak makan nasi, hambar!. Iya sebagai “wong jowo”, nasi adalah makanan pokok yang kalau tak makan ya ga kerasa kenyang. Pun bagiku yang tak membaca, aku juga tak merasa ada. Menariknya, membaca ini membuatku seperti berpetualang, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu cerita ke cerita lain dan tentu dari satu pesan hidup menuju pesan hidup lain. Jadi, dari membaca “apa yang kau rindukan ris?” . “sensasi petualanganya” bisik batinku mengiyakan.

“Hanya membaca, yakin itu saja yang kau rindukan?” batinku kembali berbisik. Maka jawabanya tidak, ada satu kegiatan lagi yang sejujurnya sangat kurindukan tapi jarang mampu kulakukan. Ya mirip kalau lagi rindu “de.e”, rindu tapi belum saatnya untuk dipertemukan. Ciee... apasih itukan Cuma analogi wkwk.. Iya menulis, kegiatan menulis itu seperti candu, kalau sudah menulis sejujurnya seringkali aku lupa. Lupa akan waktu, lupa akan masalah tapi justru bagiku menulis itu mendekatkanku pada Sang Pencipta. Kok bisa? karena menulis itu belajar, bukan hanya belajar nulis asal-asalan tapi bagiku belajar mencari sebab-akibat, belajar menerjemahkan kata hingga tulisanku ini harus logis dan tayang menjadi sebuah amanat untuk pembaca. Berat? Tentu. Mungkin itu satu dari sekian alasan  yang membuatku mulai  vakum untuk menulis. Tapi tak apa, mulai sekarang aku akan belajar memandang beban berat ini sebagai penyemangat, sebagai cambuk untuk mengobati setiap kerinduan yang mungkin muncul.

Ah iya, maka aku setuju pada Dilan. Katanya, “rindu itu berat” benar bukan? Dan aku benar benar merasakanya. Aku merasakan, bahwa kerinduan bukan sekedar mencari obat atau hanya tentang keberadaan. Tapi bagiku, kerinduan akan literasi ini ternyata semacam roda, roda untuk mengayuh sepeda yang kunaiki agar kembali membawaku berpetualang. Maka setelah setahun lamanya, yang mana aku memilih berdiam, menyimpan rapat berbagai ide, kenangan bahkan kebahagiaan yang harusnya mampu ku ceritakan. Kali ini, aku akan berdamai sekaligus berjuang, berjuang menuntaskan kerinduan ini dengan menceritakannya pada kalian.

Inilah tulisanku, tulisan pertama setelah vakum berbulan lamanya. Diringi rintik hujan yang bagiku penanda akan sebuah kerinduan. Tentu ada banyak kekurangan. Tapi kuharap kritik dan saran kalian ini membuatku terus berjalan dan kokoh menghadang badai kemalasan kedepanya.
Sumber gambar : Vidio.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan yang disemogakan

Harapan, seringkali kita dihadapkan pada berbagai harapan yang kita bangun perlahan. dimana harapan disini merupakan sebuah permintaan yang tentunya berharap untuk dikabulkan. jikalau dipikirkan, ada berapa juta bahkan berapa milyar harapan itu ada setiap hari di dunia ini? rasanya bahkan otak kita mungkin tak bisa menjawabnya.  lalu bagaimana tuhan mengabulkan semuanya? apakah dikabulkan atau bahkan dibiarkan tak digubris? rasanya lelah ketika harus berfikir semua itu. bukankah hidup itu adil? tentunya jawaban dari setiap harapan adalah doa. kau tahu, doa adalah senjata ampuh ketika menghadapi harapan yang entah kapan terealisasi ini. Allah telah berjanji akan mengabuklkan doa setiap hambanya. namun yang harus kita pahami adalah berbagai situasi yang ada pada diri kita. ada 3 macam: dimana doa tersebut ada yang disegerakan diijabah. nah tentunya doa yang kita panjatkan memang sudah pantas kita dapatkan. sehingga mudah terealisasikan. ibaratnya kita berdoa untuk mendapat nilai...
BERSYUKUR SETIAP SAAT Namaku            : RISKAH ALFIANI No. Peserta ku : XII-119-079 Dari begitu bangun pagi di kamar lantai atas sampai turun ke lantai bawah, sudah berapa kali saya mengucapkan terimakasih dan bersyukur? Mungkin sudah lima kali sampai tujuh kali. Dalam satu hari? Berapa kali saya berterima kasih dan bersyukur didalam hati? Berapa kali yang saya ucapkan dengan lantang bersuara dengan orang lain? Mungkin bisa 50 sampai 100 kali, bisa jadi lebih, karena tidak saya hitung. Tidak praktis kedengarannya? Kok ya aneh mengucapkan terimakasih sampai puluhan kali dan satu hari? Bahkan ratusan kali? Jawabanya mudah saja:dengan berterimakasih dan bersyukur, kita selalu mencari sisi positif dari segala sesuatu. Dengan mencari sisi positif, maka diri kita menjadi semakin positif dalam melihat segala sesuatu. Pasti ada putih setitik didalam hitam kelam dan ada hitam setitik di dalam putih bersih. Dengan selalu menging...

MANFAAT KEBERAGAMAN BUDAYA

MANFAAT KEBERAGAMAN BUDAYA 1.Promotes nilai-nilai kemanusiaan.  Ketika suatu organisasi memiliki sekelompok karyawan milik beragam budaya, hal ini menunjukkan bahwa organisasi mengakui dan merayakan dan memperingati keragaman yang ada pada orang dari latar belakang yang berbeda. Ini membuat orang-orang organisasi berpikir  bahwa nilai mereka dan kontribusi layak sedang direalisasikan oleh organisasi dan manajemen. 2.Improves produktivitas dan profitabilitas.  Terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan, keragaman budaya juga membawa beberapa manfaat nyata kepada bisnis di seluruh dunia. Persuasi aktif keragaman di tempat kerja langsung dampak  produktivitas dan profitabilitas organisasi serta karyawan. Ada peningkatan produktivitas pekerjadan profitabilitas bagi organisasi. 3.Helps untuk membuat kolam bakat.  Ketika organisasi berinvestasi dalam keragaman, hasil dalam penciptaan kolam bakat yang lebih besar. Ini adalah situasi win-win baik bagi karya...